Setiap tahun ummat Islam merayakan serta
memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, walaupun sebenarnya bukanlah
suatu kewajiban yang disyariatkan, sekedar media da’wah untuk mengenang kembali
langkah perjuangan kehidupan yang pernah ditapaki oleh Rasulullah.
Pada suatu ketika ummat Islam
dilanda kelesuan, ummat Islam loyo, gairah terhadap agama lenyap tidak seperti
halnya kaum Nasrani. Salahuddin Al Ayubi yang terkenal dengan sebutan Sultan
Saladin mengadakan sebuah sayembara; siapa yang dapat membangkitkan kembali gairah ummat Islam yang sedang
‘’tertidur’’ maka dia akan diberi sebuah kedudukan dalam kerajaan. Maka tampillah seorang ulama yang bernama
Syaikh Al Barzanzi yang mengarang kisah hidup Rasulullah, isinya sarat dengan
pujian serta riwayat hidup Rasul yang patut diteladani. Hingga kini masih
terdengar orang-orang yang membaca Barzanzi dalam memperingati Maulid Nabi
terutama di desa-desa, tapi sayangnya mereka tidak menterjemahkannya walaupun
syair-syair yang dikumandangkan itu mereka sedikit sekali yang mengetahuinya.
Di Indonesia selalu diadakan acara
ini dengan beberapa nama sesuai dengan
tempatnya seperti di Solo disebut dengan “Sekaten”, di Cirebon dengan
istilah “Mauludan”, “Nyangku” bagi orang Ciamis. Dalam
menyambutnya diadakan pula beberapa kegiatan sejak dari desa dengan surau yang
sederhana sampai istana negara.
Pada daerah Keraton tepatnya Yogyakarta, dalam upacara
mengarak dan membersihkan barang-barang kuno seperti keris, tombak, pedang dan
lain-lain, bekas cucian airnya digunakan untuk ajimat, disimpan serta ada pula
yang diteteskan di kebun agar tanaman hidup dengan subur dan berbuat lebat. Hal
ini adalah ajaran yang penuh dengan bid’ah, kurafat, syirik dan tahayul yang
tidak sesuai lagi dengan maksud Sultan Saladin.
Pokok utama dalam memperingati Maulid bukan pesta
hura-huranya tetapi meniru dan meneladani perjuangan serta sikap hidup
Rasulullah, dalam Al Qur’an surat Al Ahzab 33;21 Allah berfirman, ”Sesungguhnya
telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu
orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah”. Rasulullah juga pernah bersabda, ”Aku diutus Allah ke
muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia”, kelahirannya adalah rahmat
untuk seluruh manusia yang diterangkan Allah dalam surat Saba’;28 ”Dan tidaklah
Kami utus engkau Muhammad kecuali untuk seluruh ummat manusia, memberi kabar
gembira dan peringatan”.
Kisah Seorang Ibu
Dalam rangka mengenang serta memperingati hari kelahiran
Rasulullah ada baiknya kita lihat sejarah singkat perjalanan seorang ibu yang
pernah mendambakan seorang anak dengan harapan anak tersebut menjadi penghulu
dunia, dialah Siti Aminah, ibunda Rasulullah.
Al kisah, seorang dara cantik rupawan, tumbuh di keluarga
Quraisy, berasal dari keturunan yang tinggi martabatnya yang merupakan
kebanggaan suku Quraisy di Mekkah. Putri dari kepala Bani Zuhrah yang termashur
kedudukannya. Terjaga rapat dalam pingitan, hingga hampir tidak diketahui
masyarakat. Harum wangi dara kembang tercium oleh pemuda-pemuda Quraisy, yang
kemudian berlomba-lomba menyiapkan diri mempersuntingnya.
Aminah telah mengetahui dan mengenal Abdullah seperti
pemuda-pemuda lainnya. Bani Hasyim adalah keluarga yang paling dekat
dibandingkan dengan suku-suku lainnya. Keintiman keluarga ini telah terpupuk
sejak Qusyai dan Zahrah putra Kilab bin Murah. Aminah mengenal Abdullah sejak
masa kanak-kanak kemudian menjadi gadis mekar yang dipingit. Mereka sering
bertemu dilorong-lorong Mekkah dan Baitil Atiq. Akrabnya mereka ditunjang pula
dengan keakraban antara orangtuanya
dengan sering bersilaturahmi membicarakan kepentingan masyarakat Mekkah.
Karena mimpi yang mempengaruhi Abdul Muthalib, bersama
Harits anaknya pergi membawa pacul untuk menemukan sesuatu dekat berhala Ishafa
dan Nailah. Orang Quraisy menghalangi sehingga hampir terjadi baku hantam namun
dengan undian yang dimenangkan Abdul Muthalib dengan tenang dia terus menggali
hingga paculnya terantuk batu-batu yang menutup sumur, ya itulah dia sumur
zam-zam yang telah tertimbun sekian lamanya, kini mulai dihidupkan kembali oleh
Abdul Muthalib. Dia sering diolok-olok oleh penduduk Mekkah karena mempunyai
anak hanya seorang. Kesedihannya itu terobati setelah ditemukannya kembali
sumur zam-zam, lalu dia bernazar, ”Apabila aku mempunyai anak sepuluh anak,
salah satu dari mereka akan ku sembelih untuk Tuhan”, harapannya terkabul, ia
memiliki sepuluh anak dan Abdullah anak yang paling bungsu.
Suatu hari Mekkah menjadi heboh, penduduk Mekkah semuanya
tidak henti-hentinya membicarakan Abdul Muthalib yang membawa anaknya menuju
Ka’bah. Semuanya telah mendapat undian dan dengan hati pasrah menyerahkan
kepada-Nya. Kaum wanita seluruh Mekkah turut berguncang hatinya, ikut sedih dan
berdebar-debar menanti saat yang menentukan, ada pula wanita-wanita yang
sengaja datang menyaksikan. Tetapi Aminah, mawar Zuhrah itu tetap tinggal di
rumahnya, hatinyapun gelisah sendiri.
Undian menentukan bahwa Abdullah sebagai korban. Dan
dengan tangan kanan memegang pisau yang berkilat-kilat Abdul Muthalib membawa
Abdullah ke tempat jagal. Kejadian itu cepat pula sampai ke telinga Aminah. Jam
seakan berhenti berdetak dan bumi tidak berputar. Hari berjalan terasa lambat
sekali. Aminah serta dara-dara lainnya menjadi sedih. Mereka menyayangkan
mengapa Abdullah yang terpilih. Padahal ia adalah pemuda harapan ayahnya dan
juga harapan penduduk Mekkah. Keluarga Abdul Muthalib dirundung kedukaan, semua
saudara Abdullah menangis dan berdebar-debar menunggu ketetapan itu.
Aminah yang telah kehilangan semangat hidupnya, tiba-tiba
timbul kembali. Tatkala ia mendengar seseorang yang menceritakan tentang keselamatan
Abdullah, ”Saat Abdul Muthalib telah meletakkan pisau berkilat-kilat di leher
anaknya dan memalingkan muka serentak bangkit berdiri tokoh-tokoh Quraiys dan
melarangnya, ”Demi Allah, jangan kau laksanakan dulu. Tunggu sampai ada
keputusan yang dapat dipercaya. Apakah tidak engkau fikir ? kami khawatir bila
yang kau lakukan ini menjadi adat dikemudian hari. Bagaimana nasib kaum Quraisy
bila setiap bapak menyembelih anaknya”.
Penyembelihan itu dibatalkan sebelum mereka menemukan
keputusan dari seorang dukun Hejaz. Perjalanan dua puluh hari lamanya mencari
dukun itu. Semua turut berduka cita sehingga kota Mekkah mati, tidak ada
kesibukan dan keramaian. Wanita-wanita tidak mau ketinggalan menunggu keputusan
dari Hejaz, mereka berharap agar Abdullah selamat. Keputusan yang diberikan
dukun itu ialah agar diganti dengan 100 ekor onta yang disembelih.
Meminang Aminah
Suatu hari Abdul Muthalib datang ke rumah Barrah untuk
meminang Aminah. Dia kaget, setelah sadar dia mejerit kegirangan, tetapi dalam
hati saja. Seolah dia tidak percaya, benarkah langit telah memilihnya untuk
jadi isteri Abdullah ? Serasa meledak dadanya karena bahagia yang tidak
terhingga. Mendengar kabar itu seluruh wanita Mekkah yang simpati dan menaruh
hati kepada Abdullah menjadi iri serta sakit hati termasuk Laila Addawiyah.
Belum habis berita tentang Abdullah dengan penebusannya
yang menjadi buah bibir masyarakat Mekkah. Kini mereka ramai membicarakan
tentang perkawinan Abdullah dengan Aminah. Keramaian pesta perkawinan Aminah
dan Abdullah selama tiga hari tiga malam. Saat mengantar Aminah ke rumah
mertuanya, ke dunia baru yang harus dimasuki, dunia yang masih asing. Ia
ucapkan selamat tinggal kepada rumah yang dia huni, rasanya ia tidak tega,
sesampai disana Abdullah menunjukkan rumah baru buat mereka berdua. Rumah yang
sederhana, cukup nyaman bagi mereka, ideal bagi pengantin baru.
Abdullah tiba saatnya untuk berpisah dengan Aminah menuju
Syam melakukan perdagangan. Perpisahan itu terasa berat bagi Aminah. Hatinya
tak rela melepas kepergian suami yang baru menikahinya itu. Hatinya bergetar
hingga menggigil seluruh tubuhnya. Erat dipegang tangan suaminya seakan tak mau
melepas untuk pergi. Pelan dilepaskan tangan isterinya itu, melangkah ke
halaman dengan tangan yang telah lepas dari wajah isterinya. Dengan senyum
dipaksakan dia berujar, ”Bersabarlah Aminah, aku pergi hanya beberapa minggu
saja. Tunggulah, aku akan datang segera dengan membawa oleh-oleh untukmu. Tak
berapa lama. Tinggallah kau dengan bayangan dan hatiku disini. Yang pergi
hanyalah ragaku saja. Jasmaniku pergi untuk mencari kelebihan hidup. Ia akan
cepat kembali karena kesayangannya ada disini, disampingmu, engkaulah
satu-satunya makhluk Allah yang paling aku sayangi dan cintai”.
Tapi Aminah setelah kepergian suaminya tak berhasil
melenyapkan kedukaan dan kesedihan. Semangatnya melemah, terbang bersama
perginya suami tercinta. Dia hanya dapat terpaku diam, mematung di depan pintu
mereka. Dadanya seakan tak dapat menahan keharuan.
Hari-hari selanjutnya ia terbaring dengan fikiran kosong.
Kerinduan seakan ingin meledak, menghancurkan dadanya yang lemah. Dia
selalu menyendiri dan menyepi untuk
melamunkan berbagai kenangan indah yang akan dan telah dianyam selama ini.
Satu bulan berlalu. Hatinya risau memikirkan nasib
suaminya apalagi kini telah tampak tanda-tanda kehamilannya. Keyakinan akan
adanya bayi dalam kandungan itu membuat Aminah sadar. Semangat dan kekuatannya
timbul lagi sampai memasuki bulan kedua dan ketiga, namun belum ada juga kabar
tentang Abdullah. Walaupun kafilah Mekkah telah ada yang kembali, kemana
Abdullah ?
Menurut berita dari Abdul Muthalib, Abdullah sakit di
Yatsrib, sehingga harus menunggu sehat dulu baru bisa ke Mekkah. Rindu Aminah
semakin menggelegak akan kehadiran suaminya. Apalagi jika datang impian yang
memberitahu dirinya anak siapa yang dikandungnya itu. Hatinya seringkali kesal
bila dia terbangun tengah malam karena mimpi yang menyenangkan itu dan dia
ingin membaginya, ternyata tak ada siapa-siapa disininya.
Mendengar kabar dari Harits memukul batin siapa saja
terutama Aminah, hatinya remuk. Kesedihan, kedukaan, kemurungan bercampur
menjadi satu. Selama beberapa waktu dia tidak mampu berkata sepatahpun. Hatinya
tetap tidak percaya bahwa Abdullah telah mati, meninggalkan dirinya untuk
selama-lamanya. Tapi akhirnya gerakan bayi dalam kandunganya menyadarkan
dirinya. Semangat dan kesehatannya pulih. Kedukaan perlahan hilang seiring
dengan berjalanya waktu. Ketenangan dan kepasrahan itu mampu menumbuhkan tangis
yang selama ini tertahan. Juga kata-kata kesedihan dapat diucapkan. Sehingga
agak lapang rasa hati dan beban jantungnya.
Penduduk Mekkah dikala itu lemas lunglai. Apalagi ketika
disadari betapa belia usia Abdullah, delapan belas tahun, ternyata tak
memberinya kesempatan lebih lama untuk mereguk nikmat dunia ini. Maut telah
datang menjemput membawanya pergi. Maut yang dulu gagal mengambilnya, kini
datang menagih janjinya yang tertunda, tanpa kenal kasihan, pada semua
keluarga, semua penduduk yang mencintainya, juga pada isterinya yang ”inai” di
tangannyapun belum hilang.
Berita lain yang mengusik kota Mekkah ialah tentang
kelahiran anak Aminah yang bertepatan pula dengan adanya berita akan kedatangan
Nabi yang telah lama ditunggu. Baik Yahudi maupun Nasrani, mereka berharap agar
Nabi tersebut lahir dari kalangan mereka. Secara psikologis berita itu
mempengaruhi jiwa Aminah. Sehingga wajar kiranya jika dia merasa bermimpi,
bahwa yang dikandungnya itu adalah seorang manusia calon Nabi dan pemimpin
ummat.
Bersamaan kelahiran anaknya, Mekkah diserang
pasukan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah, namun maksud tersebut gagal
karena Allah melindungi Ka’bah dari tangan-tangan jahil. Abrahah dan pasukannya
telah mengadakan perjalanan dari Yaman dengan kekalahan dan kehancuran,
menjelang tengah malam Senin Rabi’ul Awal, bayi Aminah lahir, setelah
mengadakan perjuangan antara hidup dan mati. Kelahiran itu sangat menyenangkan
hati Aminah.
Begitu semuanya beres dan bayinya diletakkan di sisinya, ucapan syukur
berkali-kali dipanjatkan. Wajah anaknya bersih, cakap dan tampan mengingatkan
akan Abdullah ayahnya. Mata Aminah tak henti-hentinya memandang wajah dan tubuh
anaknya yang menghabiskan sisa malam itu. Ketika sinar Matahari mulai tampak
mengintip di ufuk Timur, Aminah menyuruh pembantunya untuk mengirimkan berita
gembira itu pada mertuanya, Abdul
Muthalib serentak datang menengok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar