Minggu, 27 Oktober 2013

6. Maulid Nabi dan Kisah seorang Ibu



Setiap tahun ummat Islam merayakan serta memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, walaupun sebenarnya bukanlah suatu kewajiban yang disyariatkan, sekedar media da’wah untuk mengenang kembali langkah perjuangan kehidupan yang pernah ditapaki oleh Rasulullah.

            Pada suatu ketika ummat Islam dilanda kelesuan, ummat Islam loyo, gairah terhadap agama lenyap tidak seperti halnya kaum Nasrani. Salahuddin Al Ayubi yang terkenal dengan sebutan Sultan Saladin mengadakan sebuah sayembara; siapa yang dapat membangkitkan  kembali gairah ummat Islam yang sedang ‘’tertidur’’ maka dia akan diberi sebuah kedudukan dalam kerajaan.  Maka tampillah seorang ulama yang bernama Syaikh Al Barzanzi yang mengarang kisah hidup Rasulullah, isinya sarat dengan pujian serta riwayat hidup Rasul yang patut diteladani. Hingga kini masih terdengar orang-orang yang membaca Barzanzi dalam memperingati Maulid Nabi terutama di desa-desa, tapi sayangnya mereka tidak menterjemahkannya walaupun syair-syair yang dikumandangkan itu mereka sedikit sekali yang mengetahuinya.

            Di Indonesia selalu diadakan acara ini dengan beberapa nama sesuai dengan  tempatnya seperti di Solo disebut dengan “Sekaten”, di Cirebon dengan istilah “Mauludan”, “Nyangku” bagi orang Ciamis. Dalam menyambutnya diadakan pula beberapa kegiatan sejak dari desa dengan surau yang sederhana sampai istana negara.

            Pada daerah Keraton tepatnya Yogyakarta, dalam upacara mengarak dan membersihkan barang-barang kuno seperti keris, tombak, pedang dan lain-lain, bekas cucian airnya digunakan untuk ajimat, disimpan serta ada pula yang diteteskan di kebun agar tanaman hidup dengan subur dan berbuat lebat. Hal ini adalah ajaran yang penuh dengan bid’ah, kurafat, syirik dan tahayul yang tidak sesuai lagi dengan maksud Sultan Saladin.

            Pokok utama dalam memperingati Maulid bukan pesta hura-huranya tetapi meniru dan meneladani perjuangan serta sikap hidup Rasulullah, dalam Al Qur’an surat Al Ahzab 33;21 Allah berfirman, ”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. Rasulullah juga pernah bersabda, ”Aku diutus Allah ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia”, kelahirannya adalah rahmat untuk seluruh manusia yang diterangkan Allah dalam surat Saba’;28 ”Dan tidaklah Kami utus engkau Muhammad kecuali untuk seluruh ummat manusia, memberi kabar gembira dan peringatan”.

Kisah Seorang Ibu
            Dalam rangka mengenang serta memperingati hari kelahiran Rasulullah ada baiknya kita lihat sejarah singkat perjalanan seorang ibu yang pernah mendambakan seorang anak dengan harapan anak tersebut menjadi penghulu dunia, dialah Siti Aminah, ibunda Rasulullah.

            Al kisah, seorang dara cantik rupawan, tumbuh di keluarga Quraisy, berasal dari keturunan yang tinggi martabatnya yang merupakan kebanggaan suku Quraisy di Mekkah. Putri dari kepala Bani Zuhrah yang termashur kedudukannya. Terjaga rapat dalam pingitan, hingga hampir tidak diketahui masyarakat. Harum wangi dara kembang tercium oleh pemuda-pemuda Quraisy, yang kemudian berlomba-lomba menyiapkan diri mempersuntingnya.

            Aminah telah mengetahui dan mengenal Abdullah seperti pemuda-pemuda lainnya. Bani Hasyim adalah keluarga yang paling dekat dibandingkan dengan suku-suku lainnya. Keintiman keluarga ini telah terpupuk sejak Qusyai dan Zahrah putra Kilab bin Murah. Aminah mengenal Abdullah sejak masa kanak-kanak kemudian menjadi gadis mekar yang dipingit. Mereka sering bertemu dilorong-lorong Mekkah dan Baitil Atiq. Akrabnya mereka ditunjang pula dengan keakraban antara  orangtuanya dengan sering bersilaturahmi membicarakan kepentingan masyarakat Mekkah.

            Karena mimpi yang mempengaruhi Abdul Muthalib, bersama Harits anaknya pergi membawa pacul untuk menemukan sesuatu dekat berhala Ishafa dan Nailah. Orang Quraisy menghalangi sehingga hampir terjadi baku hantam namun dengan undian yang dimenangkan Abdul Muthalib dengan tenang dia terus menggali hingga paculnya terantuk batu-batu yang menutup sumur, ya itulah dia sumur zam-zam yang telah tertimbun sekian lamanya, kini mulai dihidupkan kembali oleh Abdul Muthalib. Dia sering diolok-olok oleh penduduk Mekkah karena mempunyai anak hanya seorang. Kesedihannya itu terobati setelah ditemukannya kembali sumur zam-zam, lalu dia bernazar, ”Apabila aku mempunyai anak sepuluh anak, salah satu dari mereka akan ku sembelih untuk Tuhan”, harapannya terkabul, ia memiliki sepuluh anak dan Abdullah anak yang paling bungsu.

            Suatu hari Mekkah menjadi heboh, penduduk Mekkah semuanya tidak henti-hentinya membicarakan Abdul Muthalib yang membawa anaknya menuju Ka’bah. Semuanya telah mendapat undian dan dengan hati pasrah menyerahkan kepada-Nya. Kaum wanita seluruh Mekkah turut berguncang hatinya, ikut sedih dan berdebar-debar menanti saat yang menentukan, ada pula wanita-wanita yang sengaja datang menyaksikan. Tetapi Aminah, mawar Zuhrah itu tetap tinggal di rumahnya, hatinyapun gelisah sendiri.

            Undian menentukan bahwa Abdullah sebagai korban. Dan dengan tangan kanan memegang pisau yang berkilat-kilat Abdul Muthalib membawa Abdullah ke tempat jagal. Kejadian itu cepat pula sampai ke telinga Aminah. Jam seakan berhenti berdetak dan bumi tidak berputar. Hari berjalan terasa lambat sekali. Aminah serta dara-dara lainnya menjadi sedih. Mereka menyayangkan mengapa Abdullah yang terpilih. Padahal ia adalah pemuda harapan ayahnya dan juga harapan penduduk Mekkah. Keluarga Abdul Muthalib dirundung kedukaan, semua saudara Abdullah menangis dan berdebar-debar menunggu ketetapan itu.

            Aminah yang telah kehilangan semangat hidupnya, tiba-tiba timbul kembali. Tatkala ia mendengar seseorang yang menceritakan tentang keselamatan Abdullah, ”Saat Abdul Muthalib telah meletakkan pisau berkilat-kilat di leher anaknya dan memalingkan muka serentak bangkit berdiri tokoh-tokoh Quraiys dan melarangnya, ”Demi Allah, jangan kau laksanakan dulu. Tunggu sampai ada keputusan yang dapat dipercaya. Apakah tidak engkau fikir ? kami khawatir bila yang kau lakukan ini menjadi adat dikemudian hari. Bagaimana nasib kaum Quraisy bila setiap bapak menyembelih anaknya”.   

            Penyembelihan itu dibatalkan sebelum mereka menemukan keputusan dari seorang dukun Hejaz. Perjalanan dua puluh hari lamanya mencari dukun itu. Semua turut berduka cita sehingga kota Mekkah mati, tidak ada kesibukan dan keramaian. Wanita-wanita tidak mau ketinggalan menunggu keputusan dari Hejaz, mereka berharap agar Abdullah selamat. Keputusan yang diberikan dukun itu ialah agar diganti dengan 100 ekor onta yang disembelih.

Meminang Aminah
            Suatu hari Abdul Muthalib datang ke rumah Barrah untuk meminang Aminah. Dia kaget, setelah sadar dia mejerit kegirangan, tetapi dalam hati saja. Seolah dia tidak percaya, benarkah langit telah memilihnya untuk jadi isteri Abdullah ? Serasa meledak dadanya karena bahagia yang tidak terhingga. Mendengar kabar itu seluruh wanita Mekkah yang simpati dan menaruh hati kepada Abdullah menjadi iri serta sakit hati termasuk Laila Addawiyah.

            Belum habis berita tentang Abdullah dengan penebusannya yang menjadi buah bibir masyarakat Mekkah. Kini mereka ramai membicarakan tentang perkawinan Abdullah dengan Aminah. Keramaian pesta perkawinan Aminah dan Abdullah selama tiga hari tiga malam. Saat mengantar Aminah ke rumah mertuanya, ke dunia baru yang harus dimasuki, dunia yang masih asing. Ia ucapkan selamat tinggal kepada rumah yang dia huni, rasanya ia tidak tega, sesampai disana Abdullah menunjukkan rumah baru buat mereka berdua. Rumah yang sederhana, cukup nyaman bagi mereka, ideal bagi pengantin baru.

            Abdullah tiba saatnya untuk berpisah dengan Aminah menuju Syam melakukan perdagangan. Perpisahan itu terasa berat bagi Aminah. Hatinya tak rela melepas kepergian suami yang baru menikahinya itu. Hatinya bergetar hingga menggigil seluruh tubuhnya. Erat dipegang tangan suaminya seakan tak mau melepas untuk pergi. Pelan dilepaskan tangan isterinya itu, melangkah ke halaman dengan tangan yang telah lepas dari wajah isterinya. Dengan senyum dipaksakan dia berujar, ”Bersabarlah Aminah, aku pergi hanya beberapa minggu saja. Tunggulah, aku akan datang segera dengan membawa oleh-oleh untukmu. Tak berapa lama. Tinggallah kau dengan bayangan dan hatiku disini. Yang pergi hanyalah ragaku saja. Jasmaniku pergi untuk mencari kelebihan hidup. Ia akan cepat kembali karena kesayangannya ada disini, disampingmu, engkaulah satu-satunya makhluk Allah yang paling aku sayangi dan cintai”.

            Tapi Aminah setelah kepergian suaminya tak berhasil melenyapkan kedukaan dan kesedihan. Semangatnya melemah, terbang bersama perginya suami tercinta. Dia hanya dapat terpaku diam, mematung di depan pintu mereka. Dadanya seakan tak dapat menahan keharuan.

            Hari-hari selanjutnya ia terbaring dengan fikiran kosong. Kerinduan seakan ingin meledak, menghancurkan dadanya yang lemah. Dia selalu  menyendiri dan menyepi untuk melamunkan berbagai kenangan indah yang akan dan telah dianyam selama ini.

            Satu bulan berlalu. Hatinya risau memikirkan nasib suaminya apalagi kini telah tampak tanda-tanda kehamilannya. Keyakinan akan adanya bayi dalam kandungan itu membuat Aminah sadar. Semangat dan kekuatannya timbul lagi sampai memasuki bulan kedua dan ketiga, namun belum ada juga kabar tentang Abdullah. Walaupun kafilah Mekkah telah ada yang kembali, kemana Abdullah ?

            Menurut berita dari Abdul Muthalib, Abdullah sakit di Yatsrib, sehingga harus menunggu sehat dulu baru bisa ke Mekkah. Rindu Aminah semakin menggelegak akan kehadiran suaminya. Apalagi jika datang impian yang memberitahu dirinya anak siapa yang dikandungnya itu. Hatinya seringkali kesal bila dia terbangun tengah malam karena mimpi yang menyenangkan itu dan dia ingin membaginya, ternyata tak ada siapa-siapa disininya.

            Mendengar kabar dari Harits memukul batin siapa saja terutama Aminah, hatinya remuk. Kesedihan, kedukaan, kemurungan bercampur menjadi satu. Selama beberapa waktu dia tidak mampu berkata sepatahpun. Hatinya tetap tidak percaya bahwa Abdullah telah mati, meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Tapi akhirnya gerakan bayi dalam kandunganya menyadarkan dirinya. Semangat dan kesehatannya pulih. Kedukaan perlahan hilang seiring dengan berjalanya waktu. Ketenangan dan kepasrahan itu mampu menumbuhkan tangis yang selama ini tertahan. Juga kata-kata kesedihan dapat diucapkan. Sehingga agak lapang rasa hati dan beban jantungnya.

            Penduduk Mekkah dikala itu lemas lunglai. Apalagi ketika disadari betapa belia usia Abdullah, delapan belas tahun, ternyata tak memberinya kesempatan lebih lama untuk mereguk nikmat dunia ini. Maut telah datang menjemput membawanya pergi. Maut yang dulu gagal mengambilnya, kini datang menagih janjinya yang tertunda, tanpa kenal kasihan, pada semua keluarga, semua penduduk yang mencintainya, juga pada isterinya yang ”inai” di tangannyapun belum hilang.

            Berita lain yang mengusik kota Mekkah ialah tentang kelahiran anak Aminah yang bertepatan pula dengan adanya berita akan kedatangan Nabi yang telah lama ditunggu. Baik Yahudi maupun Nasrani, mereka berharap agar Nabi tersebut lahir dari kalangan mereka. Secara psikologis berita itu mempengaruhi jiwa Aminah. Sehingga wajar kiranya jika dia merasa bermimpi, bahwa yang dikandungnya itu adalah seorang manusia calon Nabi dan pemimpin ummat.

 Bersamaan kelahiran anaknya, Mekkah diserang pasukan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah, namun maksud tersebut gagal karena Allah melindungi Ka’bah dari tangan-tangan jahil. Abrahah dan pasukannya telah mengadakan perjalanan dari Yaman dengan kekalahan dan kehancuran, menjelang tengah malam Senin Rabi’ul Awal, bayi Aminah lahir, setelah mengadakan perjuangan antara hidup dan mati. Kelahiran itu sangat menyenangkan hati Aminah.

            Begitu semuanya beres dan bayinya  diletakkan di sisinya, ucapan syukur berkali-kali dipanjatkan. Wajah anaknya bersih, cakap dan tampan mengingatkan akan Abdullah ayahnya. Mata Aminah tak henti-hentinya memandang wajah dan tubuh anaknya yang menghabiskan sisa malam itu. Ketika sinar Matahari mulai tampak mengintip di ufuk Timur, Aminah menyuruh pembantunya untuk mengirimkan berita gembira  itu pada mertuanya, Abdul Muthalib serentak datang menengok.

Dialah Muhammad bin Abdulah bin Abdul Muthalib Al Quraisy yang lahir dalam keadaan yatim, bersamaan dengan kehancuran pasukan Abrahah yang akan menguasai Mekkah, wallahu a’lam [ Mukhlis Denros, Padang, 31052002]         

5. Mengenang Keluarga Ibrahim



Tanggal 10 Zulhijjah hari besar bagi ummat ummat Islam sebagai hari raya Haji serta hari raya Qurban. Dengan segala kemampujan yang dimiliki ummat Islam seluruh dunua pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji yang disyariatkan Allah, “Haji, bulan-bulannya dikenal dan siapa yang telah memutuskan melakukan haji, maka pada waktu itu tidak ada lagi kata-kata yang tidak sopan, cacian dan pertengkaran” [Al Baqarah 2;197].

            Pada hari inipun bagi ummat Islam yang belum ada kesanggpuan untuk datang ke ”Tanah Haram” melakukan ibadah haji diseluruh penjuru dunia, ummat Islam melakukan amalan kurban seperti kambing, sapi atau kerbau. Dagingnya dibagikan pada yang berhak menerimanya.

            Walau sebenarnya daging kurban itu tidak sampai kepada Allah, melainkan keikhlasan si pengurban, tapi itu merupakan simbul yang patut diteladani dari Ibrahim dan Ismail As.

            Nabi Ibrahim telah menikah dengan Sarah. Pernikahan itu tidak kunjung membuahkan generasi pelanjut. Berpuluh tahun menantikan kehadiran seorang anak dalam  rumah tangganya, belum juga dikaruniai seorang putrapun. Ibrahim   menjadi masqul. Melihat kesedihan suami yang dicintai, Sarah  tidak tega. Ia tawarkan Hajar, budaknya untuk dinikahi dengan harapan akan memperoleh seorang putra bagi Ibrahim, Sarah rela dimadu dengan Hajar.

            Allah memberikan karunianya. Hajar mengandung. Tiada terkira rasa cemburu Sarah kepada Hajar. Timbul khawatir Ibrahim akan melupakan dirinya. Rasa cemburu merupakan fithrah manusia, tidak kecuali pada Sarah. Sementara ia masih bisa menahan hati ketika Hajar masih mengandung. Namun perasaan itu tidak bisa disembunyikan lagi bila Ismail telah lahir. Suatu hari Sarah berkata, ”Suamiku Ibrahim. Berat rasa hati mengatakan hal ini, telah lama ku pendam perasaan. Sudah ku coba untuk menenangkan hati, tapi rasanya tak tahan lagi. Aku  takut kau akan melupakan diriku, setelah Hajar menjadi isterimu, ia wanita yang beruntung dapat memberikan keturunan kepadamu”.

            Ibrahim menaruh kasihan, ”Sarah, Hajar adalah budakmu. Kau dapat melakukan apa saja padanya. Kau dapat berbuat sesuka hatimu”. Hibur Ibrahim. Namun sebagai wanita yang beriman, Sarah tidak mau melampiaskan semua isi hatinya. Ia takut kepada Allah. Meskipun telah diberi kebebasan, dia tidak mau melakukannya. Sarah masih membolehkan Hajar tinggal di rumahnya.

            Ketika Ismail lahir, apa yang dibayangkan serta dilakukan Sarah benar-benar terjadi. Perhatian dan kasih sayang Ibrahim kepada Hajar dan putranya makin bertambah. Tidak ada waktu luang yang tidak dilewatkan bersama anaknya Ismail. Tiada terkira bahagianya Ibrahim. Melihat kenyataan itu Sarah menemui Ibrahim dan berkata, ”Demi Allah aku tidak tahan lagi hidup bersama. Aku tidak tahan lagi hidup satu rumah dengannya”. Setiap hari Sarah mendesak Ibrahim agar membawa Hajar pergi dari rumahnya. Hingga suatu hari Ibrahim mendapat perintah dari Allah Swt untuk membawa Hajar ke Selatan.

            Dibawanya Hajar dan Ismail ke daerah tandus lagi kosong tanpa penduduk. Daerah itu aman bagi Ismail dan ibunya. Aman pula dari Sarah yang tidak menyukai kehadirannya. Disini Ibrahim meninggalkan isteri dan anaknya dengan bekal sekarung kurma dan segentong air, setelah dibangunnya sebuah gubuk sederhana sekedar tempat berteduh. Disini Hajar harus berjuang mempertahankan hidup bersama Ismail. Hajar belum menyadari mereka akan ditinggalkan ditempat sepi ini. Ia takut dan  cemas. Hari demi hari akan dilaluinya dalam kedukaan. Setelah Ibrahim mengutarakan maksud Allah, Hajar berusaha membujuk Ibrahim, tapi dengan tegar Ibrahim melangkah tanpa menoleh. Setelah agak jauh meninggalkan Hajar, terdengar teriakan Hajar. ”Ibrahim suamiku. Benarkah engkau akan pergi meninggalkan kami di tempat ini, sunyi lagi sepi ? Benarkah yang menyuruh ini Allah ?”. dengan suara tersendat bercampur dengan kepiluan Ibrahim menjawab, ”Benar, isteriku. Ini semua perintah Allah”.

            Setelah mendengar jawaban dari Ibrahim, puaslah hati Hajar. Dia tenang kembali, karena yakin Allah memberikan ujian kepada mereka serta Allahpun siap menolongnya. Sebelum hilang anak dan isteri dari pandangannya, Ibrahim berdo’a, ”Ya Allah, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah  yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau [Baitullah] yang dihormati. Ya Tuhan, karena yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cendrung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur” [Ibrahim;37].

            Hajar begitu menyadari telah tinggal berdua saja dengan anaknya ismail kemudian merasa panik. Apalah daya anak bayi tersebut. Tidak ada yang lain tempat meminta tolong. Apalagi setelah perbekalan mereka berupa kurma dan air berangsur habis. Hajar dan anaknya terancam lapar dan dahaga. Rasa lapar dan haus tidak tertahankan lagi membuatnya bingung. Sementara rona wajah anaknya semakin pudar dari sinar kehidupan.

            Hajar mencari air untuk mengembalikan cahaya Ismail. Hanya pasir kering dan batu karang yang ditemuinya. Dilayangkan pandangannya ke Shafa, seolah ada air, tetapi alangkah kecewa hatinya. Tidak ada air yang diperlukan, dilihatnya Marwa, diapun berlari kesana untuk mendapatkan air. Sia-sia saja usahanya, karena dorongan rasa sayang kepada buah hatinya, tetap dicari tanpa putus asa, tak pernah padam semangatnya.

            Dari Marwa kembali ke Shafa tidak juga berhasil. Bolak balik dari Shafa ke Marwa sampai tujuh kali, akhirnya kehabisan tenaga. Hajar jatuh tersungkur ke batu karena letih. Dalam ketidakberdayaannya Hajar menyerahkan diri dan nasib anaknya kepada Allah, memohon perlindungan dan pertolongan.

            Dia dikejutkan oleh tangis anaknya, diseretnya langkah menuju sang bayi, wajah pucat yang disayang terpandang olehnya. Cahaya kehidupan Ismail hampir padam sedikit demi sedikit.

            Hati ibu mana yang tidak akan hancur melihat kenyataan demikian. Dikumpulkannya sisa tenaga yang ada...perlahan-lahan ditinggalkannya anaknya yang menyongsong maut itu. Tidak tega hatinya. Tangannya menutupi wajahnya yang berurai air mata, penuh kesedihan dia merintih. Dunia seakan berhenti berputar, angin seolah berhenti bertiup, turut merasakan kesedihan ibu yang menderita itu. Yang terdengar hanya nafas ibu dan desah anaknya yang kian lembut.

            Tiba-tiba tanpa diketahui dariman adatangnya. Tampak sekelompok burung terbang menuju ke suatu tempat. Kemudian mematuk-matuk tanah dengan paruhnya. Hingga tampak basah, secepat kilat Hajar menuju tempat itu, digalinya tanah basah itu dengan kedua tangannya. Maka memancar air dengan derasnya. Diucapkan kata-kata ”Zam-zam” yang berarti teduhlah air, teduhlah atas kekuasaan Allah. Dibawanya air untuk membasahi bibir Ismail dengan kedua telapak tangannya, digendong serta disirami air. Kehidupan mulai tampak, cahaya muka Ismail mulai kelihatan dengan adanya air zam-zam.

            Sampai Ismail menjelang dewasa, tidak pernah ditengok oleh ayahnya, hanya dalam asuhan ibunya seorang, Ismail tidak mengetahui dan mengenal ayahnya, dia diasuh dengan belaian kasih sayang seorang ibu, dengan segala beban penderitaan, hingga datang suatu hari Ibrahim menjenguk anak dan isterinya. Tetapi sayang ketika dalam kegembiraan Ibrahim mendapat ujian kembali. Belum habis  rasa capeknya setelah menelusuri perjalanan yang panjang, belum terobati rasa rindunya sebuah mimpi mengusik ketenangannya, mimpi itu dari Allah agar dia menyembelih putranya.

            Dapat dibayangkan betapa hancur dan pedihnya hati seorang ayah yang sudah lama memendam rasa rindu, tapi setelah bertemu anak yang baru saja tumbuh remaja harus pula disembelih. Dia tidak tega melakukannya, sehingga beberapa saat mimpi itu selalu disimpan. Tidak berani menceritakan kepada anak dan isterinya. Namun karena perintah Allah, pengorbanan apa saja dia selalu siap melaksanakannya, ”...Ibrahim berkata, ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab, ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku orang-orang yang sabar” [Asy Syafaat;120].

            Ismail walaupun masih muda belia rela serta tidak gentar menyerahkan dirinya untuk disembelih. Dia ikhlas karena dia anak yang shaleh yang telah dibina, dididik, ditempa oleh seorang ibu dengan segala beban penderitaan. Mereka sadar bahwa hidup hanyalah serentetan ujian dari Allah. Dan kini mereka sedang berada dalam ujian yang kesekiankalinya yaitu melakukan penyembelihan terhadap anak kesayangannya, belahan jiwa, penyejuk mata penenang hati. Ketika pisau akan disembelih ke leher Ismail dengan sangat hati-hati Ibrahim melakukannya, atas kuasa Allah, diganti dengan seekor domba, Allah menerima iman dan kesabarannya.

            Seandainya Ibrahim, begitu menerima perintah Allah langsung mengerjakan penyembelihan terhadap Ismail, maka dia telah berpahala, namun dia tidak suka, bila pekerjaan besar ini tidak mendapat resfon dari Ismail, Ibrahim juga berharap agar anaknya mendapat pahala yang besar dari pengorbanan ini.

            Dari kisah di atas nampaknya hidup memang penuh dengan rentetan ujian dan cobaan dari Allah. Pengorbanan dalam arti luas yaitu memberikan sedikit waktu, tenaga, peluang serta bentuk marena kepada yang membutuhkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Allah tidak menerima ujud dari pengorbanan tersebut namun sebagai amal, yang sampai ialah keikhlasan dalam pengorbanan itu, wallahu a’lam [Padang, 14022003].  
-Dari berbagai sumber                  

4. Al Qamah



Di zaman Rasulullah ada seorang pemuda yang bernama Alqomah, ia sangat rajin beribadat. Suatu hari ia tiba-tiba jatuh sakit yang sangat kuat, maka isterinya menyuruh orang memanggil Rasulullah dan mengatakan suaminya sakit kuat dan dalam naza sakaratul maut. Apabila berita ini sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh Bilal r.a, Ali r.a, Salamam r.a dan Ammar r.a supaya pergi melihat keadaan Alqomah. Apabila mereka sampai ke rumah Alqomah, mereka terus mendapatkan Alqomah sambil membantunya membacakan kalimah La-ilaa-ha-illallah, tetapi lidah Alqomah tidak dapat menyebutnya.

            Ketika para sahabat mendapati bahawa Alqomah pasti akan mati, maka mereka menyuruh Bilal r.a supaya memberitahu Rasulullah tentang keadaan Alqomah. Apabila Bilal sampai dirumah Rasulullah, maka bilal menceritakan segala hal yang berlaku kepada Alqomah. Lalu Rasulullah bertanya kepada Bilal; "Wahai Bilal apakah ayah Alqomah masih hidup?" jawab Bilal r.a, " Tidak, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya". Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal; "Pergilah kamu kepada ibunya dan sampaikan salamku, dan katakan kepadanya kalau dia dapat berjalan, suruh dia datang berjumpaku, kalau dia tidak dapat berjalan katakan aku akan kerumahnya". 

            Maka apabila Bilal sampai kerumah ibu Alqomah, lalu ia berkata seperti yang Rasulullah kata kepadanya, maka berkata ibu Alqomah; " Aku lebih patut pergi berjumpa Rasulullah". Lalu ibu Alqomah mengangkat tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah Rasulullah. Maka bertanya Nabi s.a.w. kepada ibu Alqomah; "Terangkan kepada ku perkara yang sebenar tentang Alqomah, jika kamu berdusta nescaya akan turun wahyu kepadaku". Berkata Nabi lagi; "Bagaimana keadaan Alqomah?", jawab ibunya; "Ia sangat rajin beribadat, ia sembahyang, berpuasa dan sangat suka bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui banyaknya". Bertanya Rasulullah; "Bagaimana hubungan kamu dengan dia?", jawab ibunya; " Aku murka kepadanya", lalu Rasulullah bertanya; "Mengapa", jawab ibunya; "Kerana ia patut mengutamakan aku dari isterinya, dan menurut kata-kata isterinya sehingga ia menentangku". 

            Maka berkata Rasulullah; "Murka kamu itulah yang telah mengunci lidahnya dari mengucap La iilaa ha illallah", kemudian Nabi s.a.w menyuruh Bilal mencari kayu api untuk membakar Alqomah. Apabila ibu Alqomah mendengar perintah Rasulullah lalu ia bertanya; "Wahai Rasulullah, kamu hendak membakar putera ku didepan mataku?, bagaimana hatiku dapat menerimanya". Kemudian berkata Nabi s.a.w; "Wahai ibu Alqomah, siksa Allah itu lebih berat dan kekal, oleh itu jika kamu mahu Allah mengampunkan dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya", demi Allah yang jiwaku ditangannya, tidak akan guna sembahyangnya, sedekahnya, selagi kamu murka kepadanya". Maka berkata ibu Alqomah sambil mengangkat kedua tangannya; "Ya Rasulullah, aku persaksikan kepada Allah dilangit dan kau Ya Rasulullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahawa aku redha pada anakku Alqomah".

            Maka Rasulullah mengarahkan Bilal pergi melihat Alqomah sambil berkata; "Pergilah kamu wahai Bilal, lihat sama ada Alqomah dapat mengucapkan La iilaa ha illallah atau tidak". Berkata Rasulullah lagi kepada Bilal ; "Aku khuatir kalau kalau ibu Alqomah mengucapkan itu semata-mata kerana pada aku dan bukan dari hatinya". Maka apabila Bilal sampai di rumah Alqomah tiba-tiba terdengar suara Alqomah menyebut; "La iilaa ha illallah". Lalu Bilal masuk sambil berkata; "Wahai semua orang yang berada disini, ketahuilah sesungguhnya murka ibunya telah menghalang Alqomah dari dapat mengucapkan kalimah La iila ha illallah, kerana redha ibunyalah maka Alqomah dapat menyebut kalimah syahadat". Maka matilah Alqomah pada waktu sebaik saja dia mengucap.

            Maka Rasulullah s.a.w pun sampai di rumah Alqomah sambil berkata; "Segeralah mandi dan kafankan", lalu disembahyangkan oleh Nabi s.a.w. dan sesudah dikuburkan maka berkata Nabi s.a.w. sambil berdiri dekat kubur; "Hai sahabat Muhajirin dan Anshar, barang siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia adalah orang yang dilaknat oleh Allah s.w.t, dan tidak diterimanya daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya.

Sumber; Himpunan Kisah-Kisah Teladan