Senin, 12 April 2021
Minggu, 27 Oktober 2013
6. Maulid Nabi dan Kisah seorang Ibu
Setiap tahun ummat Islam merayakan serta
memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, walaupun sebenarnya bukanlah
suatu kewajiban yang disyariatkan, sekedar media da’wah untuk mengenang kembali
langkah perjuangan kehidupan yang pernah ditapaki oleh Rasulullah.
Pada suatu ketika ummat Islam
dilanda kelesuan, ummat Islam loyo, gairah terhadap agama lenyap tidak seperti
halnya kaum Nasrani. Salahuddin Al Ayubi yang terkenal dengan sebutan Sultan
Saladin mengadakan sebuah sayembara; siapa yang dapat membangkitkan kembali gairah ummat Islam yang sedang
‘’tertidur’’ maka dia akan diberi sebuah kedudukan dalam kerajaan. Maka tampillah seorang ulama yang bernama
Syaikh Al Barzanzi yang mengarang kisah hidup Rasulullah, isinya sarat dengan
pujian serta riwayat hidup Rasul yang patut diteladani. Hingga kini masih
terdengar orang-orang yang membaca Barzanzi dalam memperingati Maulid Nabi
terutama di desa-desa, tapi sayangnya mereka tidak menterjemahkannya walaupun
syair-syair yang dikumandangkan itu mereka sedikit sekali yang mengetahuinya.
Di Indonesia selalu diadakan acara
ini dengan beberapa nama sesuai dengan
tempatnya seperti di Solo disebut dengan “Sekaten”, di Cirebon dengan
istilah “Mauludan”, “Nyangku” bagi orang Ciamis. Dalam
menyambutnya diadakan pula beberapa kegiatan sejak dari desa dengan surau yang
sederhana sampai istana negara.
Pada daerah Keraton tepatnya Yogyakarta, dalam upacara
mengarak dan membersihkan barang-barang kuno seperti keris, tombak, pedang dan
lain-lain, bekas cucian airnya digunakan untuk ajimat, disimpan serta ada pula
yang diteteskan di kebun agar tanaman hidup dengan subur dan berbuat lebat. Hal
ini adalah ajaran yang penuh dengan bid’ah, kurafat, syirik dan tahayul yang
tidak sesuai lagi dengan maksud Sultan Saladin.
Pokok utama dalam memperingati Maulid bukan pesta
hura-huranya tetapi meniru dan meneladani perjuangan serta sikap hidup
Rasulullah, dalam Al Qur’an surat Al Ahzab 33;21 Allah berfirman, ”Sesungguhnya
telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu
orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah”. Rasulullah juga pernah bersabda, ”Aku diutus Allah ke
muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia”, kelahirannya adalah rahmat
untuk seluruh manusia yang diterangkan Allah dalam surat Saba’;28 ”Dan tidaklah
Kami utus engkau Muhammad kecuali untuk seluruh ummat manusia, memberi kabar
gembira dan peringatan”.
Kisah Seorang Ibu
Dalam rangka mengenang serta memperingati hari kelahiran
Rasulullah ada baiknya kita lihat sejarah singkat perjalanan seorang ibu yang
pernah mendambakan seorang anak dengan harapan anak tersebut menjadi penghulu
dunia, dialah Siti Aminah, ibunda Rasulullah.
Al kisah, seorang dara cantik rupawan, tumbuh di keluarga
Quraisy, berasal dari keturunan yang tinggi martabatnya yang merupakan
kebanggaan suku Quraisy di Mekkah. Putri dari kepala Bani Zuhrah yang termashur
kedudukannya. Terjaga rapat dalam pingitan, hingga hampir tidak diketahui
masyarakat. Harum wangi dara kembang tercium oleh pemuda-pemuda Quraisy, yang
kemudian berlomba-lomba menyiapkan diri mempersuntingnya.
Aminah telah mengetahui dan mengenal Abdullah seperti
pemuda-pemuda lainnya. Bani Hasyim adalah keluarga yang paling dekat
dibandingkan dengan suku-suku lainnya. Keintiman keluarga ini telah terpupuk
sejak Qusyai dan Zahrah putra Kilab bin Murah. Aminah mengenal Abdullah sejak
masa kanak-kanak kemudian menjadi gadis mekar yang dipingit. Mereka sering
bertemu dilorong-lorong Mekkah dan Baitil Atiq. Akrabnya mereka ditunjang pula
dengan keakraban antara orangtuanya
dengan sering bersilaturahmi membicarakan kepentingan masyarakat Mekkah.
Karena mimpi yang mempengaruhi Abdul Muthalib, bersama
Harits anaknya pergi membawa pacul untuk menemukan sesuatu dekat berhala Ishafa
dan Nailah. Orang Quraisy menghalangi sehingga hampir terjadi baku hantam namun
dengan undian yang dimenangkan Abdul Muthalib dengan tenang dia terus menggali
hingga paculnya terantuk batu-batu yang menutup sumur, ya itulah dia sumur
zam-zam yang telah tertimbun sekian lamanya, kini mulai dihidupkan kembali oleh
Abdul Muthalib. Dia sering diolok-olok oleh penduduk Mekkah karena mempunyai
anak hanya seorang. Kesedihannya itu terobati setelah ditemukannya kembali
sumur zam-zam, lalu dia bernazar, ”Apabila aku mempunyai anak sepuluh anak,
salah satu dari mereka akan ku sembelih untuk Tuhan”, harapannya terkabul, ia
memiliki sepuluh anak dan Abdullah anak yang paling bungsu.
Suatu hari Mekkah menjadi heboh, penduduk Mekkah semuanya
tidak henti-hentinya membicarakan Abdul Muthalib yang membawa anaknya menuju
Ka’bah. Semuanya telah mendapat undian dan dengan hati pasrah menyerahkan
kepada-Nya. Kaum wanita seluruh Mekkah turut berguncang hatinya, ikut sedih dan
berdebar-debar menanti saat yang menentukan, ada pula wanita-wanita yang
sengaja datang menyaksikan. Tetapi Aminah, mawar Zuhrah itu tetap tinggal di
rumahnya, hatinyapun gelisah sendiri.
Undian menentukan bahwa Abdullah sebagai korban. Dan
dengan tangan kanan memegang pisau yang berkilat-kilat Abdul Muthalib membawa
Abdullah ke tempat jagal. Kejadian itu cepat pula sampai ke telinga Aminah. Jam
seakan berhenti berdetak dan bumi tidak berputar. Hari berjalan terasa lambat
sekali. Aminah serta dara-dara lainnya menjadi sedih. Mereka menyayangkan
mengapa Abdullah yang terpilih. Padahal ia adalah pemuda harapan ayahnya dan
juga harapan penduduk Mekkah. Keluarga Abdul Muthalib dirundung kedukaan, semua
saudara Abdullah menangis dan berdebar-debar menunggu ketetapan itu.
Aminah yang telah kehilangan semangat hidupnya, tiba-tiba
timbul kembali. Tatkala ia mendengar seseorang yang menceritakan tentang keselamatan
Abdullah, ”Saat Abdul Muthalib telah meletakkan pisau berkilat-kilat di leher
anaknya dan memalingkan muka serentak bangkit berdiri tokoh-tokoh Quraiys dan
melarangnya, ”Demi Allah, jangan kau laksanakan dulu. Tunggu sampai ada
keputusan yang dapat dipercaya. Apakah tidak engkau fikir ? kami khawatir bila
yang kau lakukan ini menjadi adat dikemudian hari. Bagaimana nasib kaum Quraisy
bila setiap bapak menyembelih anaknya”.
Penyembelihan itu dibatalkan sebelum mereka menemukan
keputusan dari seorang dukun Hejaz. Perjalanan dua puluh hari lamanya mencari
dukun itu. Semua turut berduka cita sehingga kota Mekkah mati, tidak ada
kesibukan dan keramaian. Wanita-wanita tidak mau ketinggalan menunggu keputusan
dari Hejaz, mereka berharap agar Abdullah selamat. Keputusan yang diberikan
dukun itu ialah agar diganti dengan 100 ekor onta yang disembelih.
Meminang Aminah
Suatu hari Abdul Muthalib datang ke rumah Barrah untuk
meminang Aminah. Dia kaget, setelah sadar dia mejerit kegirangan, tetapi dalam
hati saja. Seolah dia tidak percaya, benarkah langit telah memilihnya untuk
jadi isteri Abdullah ? Serasa meledak dadanya karena bahagia yang tidak
terhingga. Mendengar kabar itu seluruh wanita Mekkah yang simpati dan menaruh
hati kepada Abdullah menjadi iri serta sakit hati termasuk Laila Addawiyah.
Belum habis berita tentang Abdullah dengan penebusannya
yang menjadi buah bibir masyarakat Mekkah. Kini mereka ramai membicarakan
tentang perkawinan Abdullah dengan Aminah. Keramaian pesta perkawinan Aminah
dan Abdullah selama tiga hari tiga malam. Saat mengantar Aminah ke rumah
mertuanya, ke dunia baru yang harus dimasuki, dunia yang masih asing. Ia
ucapkan selamat tinggal kepada rumah yang dia huni, rasanya ia tidak tega,
sesampai disana Abdullah menunjukkan rumah baru buat mereka berdua. Rumah yang
sederhana, cukup nyaman bagi mereka, ideal bagi pengantin baru.
Abdullah tiba saatnya untuk berpisah dengan Aminah menuju
Syam melakukan perdagangan. Perpisahan itu terasa berat bagi Aminah. Hatinya
tak rela melepas kepergian suami yang baru menikahinya itu. Hatinya bergetar
hingga menggigil seluruh tubuhnya. Erat dipegang tangan suaminya seakan tak mau
melepas untuk pergi. Pelan dilepaskan tangan isterinya itu, melangkah ke
halaman dengan tangan yang telah lepas dari wajah isterinya. Dengan senyum
dipaksakan dia berujar, ”Bersabarlah Aminah, aku pergi hanya beberapa minggu
saja. Tunggulah, aku akan datang segera dengan membawa oleh-oleh untukmu. Tak
berapa lama. Tinggallah kau dengan bayangan dan hatiku disini. Yang pergi
hanyalah ragaku saja. Jasmaniku pergi untuk mencari kelebihan hidup. Ia akan
cepat kembali karena kesayangannya ada disini, disampingmu, engkaulah
satu-satunya makhluk Allah yang paling aku sayangi dan cintai”.
Tapi Aminah setelah kepergian suaminya tak berhasil
melenyapkan kedukaan dan kesedihan. Semangatnya melemah, terbang bersama
perginya suami tercinta. Dia hanya dapat terpaku diam, mematung di depan pintu
mereka. Dadanya seakan tak dapat menahan keharuan.
Hari-hari selanjutnya ia terbaring dengan fikiran kosong.
Kerinduan seakan ingin meledak, menghancurkan dadanya yang lemah. Dia
selalu menyendiri dan menyepi untuk
melamunkan berbagai kenangan indah yang akan dan telah dianyam selama ini.
Satu bulan berlalu. Hatinya risau memikirkan nasib
suaminya apalagi kini telah tampak tanda-tanda kehamilannya. Keyakinan akan
adanya bayi dalam kandungan itu membuat Aminah sadar. Semangat dan kekuatannya
timbul lagi sampai memasuki bulan kedua dan ketiga, namun belum ada juga kabar
tentang Abdullah. Walaupun kafilah Mekkah telah ada yang kembali, kemana
Abdullah ?
Menurut berita dari Abdul Muthalib, Abdullah sakit di
Yatsrib, sehingga harus menunggu sehat dulu baru bisa ke Mekkah. Rindu Aminah
semakin menggelegak akan kehadiran suaminya. Apalagi jika datang impian yang
memberitahu dirinya anak siapa yang dikandungnya itu. Hatinya seringkali kesal
bila dia terbangun tengah malam karena mimpi yang menyenangkan itu dan dia
ingin membaginya, ternyata tak ada siapa-siapa disininya.
Mendengar kabar dari Harits memukul batin siapa saja
terutama Aminah, hatinya remuk. Kesedihan, kedukaan, kemurungan bercampur
menjadi satu. Selama beberapa waktu dia tidak mampu berkata sepatahpun. Hatinya
tetap tidak percaya bahwa Abdullah telah mati, meninggalkan dirinya untuk
selama-lamanya. Tapi akhirnya gerakan bayi dalam kandunganya menyadarkan
dirinya. Semangat dan kesehatannya pulih. Kedukaan perlahan hilang seiring
dengan berjalanya waktu. Ketenangan dan kepasrahan itu mampu menumbuhkan tangis
yang selama ini tertahan. Juga kata-kata kesedihan dapat diucapkan. Sehingga
agak lapang rasa hati dan beban jantungnya.
Penduduk Mekkah dikala itu lemas lunglai. Apalagi ketika
disadari betapa belia usia Abdullah, delapan belas tahun, ternyata tak
memberinya kesempatan lebih lama untuk mereguk nikmat dunia ini. Maut telah
datang menjemput membawanya pergi. Maut yang dulu gagal mengambilnya, kini
datang menagih janjinya yang tertunda, tanpa kenal kasihan, pada semua
keluarga, semua penduduk yang mencintainya, juga pada isterinya yang ”inai” di
tangannyapun belum hilang.
Berita lain yang mengusik kota Mekkah ialah tentang
kelahiran anak Aminah yang bertepatan pula dengan adanya berita akan kedatangan
Nabi yang telah lama ditunggu. Baik Yahudi maupun Nasrani, mereka berharap agar
Nabi tersebut lahir dari kalangan mereka. Secara psikologis berita itu
mempengaruhi jiwa Aminah. Sehingga wajar kiranya jika dia merasa bermimpi,
bahwa yang dikandungnya itu adalah seorang manusia calon Nabi dan pemimpin
ummat.
Bersamaan kelahiran anaknya, Mekkah diserang
pasukan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah, namun maksud tersebut gagal
karena Allah melindungi Ka’bah dari tangan-tangan jahil. Abrahah dan pasukannya
telah mengadakan perjalanan dari Yaman dengan kekalahan dan kehancuran,
menjelang tengah malam Senin Rabi’ul Awal, bayi Aminah lahir, setelah
mengadakan perjuangan antara hidup dan mati. Kelahiran itu sangat menyenangkan
hati Aminah.
Begitu semuanya beres dan bayinya diletakkan di sisinya, ucapan syukur
berkali-kali dipanjatkan. Wajah anaknya bersih, cakap dan tampan mengingatkan
akan Abdullah ayahnya. Mata Aminah tak henti-hentinya memandang wajah dan tubuh
anaknya yang menghabiskan sisa malam itu. Ketika sinar Matahari mulai tampak
mengintip di ufuk Timur, Aminah menyuruh pembantunya untuk mengirimkan berita
gembira itu pada mertuanya, Abdul
Muthalib serentak datang menengok.
5. Mengenang Keluarga Ibrahim
Tanggal 10 Zulhijjah hari besar
bagi ummat ummat Islam sebagai hari raya Haji serta hari raya Qurban. Dengan
segala kemampujan yang dimiliki ummat Islam seluruh dunua pergi ke tanah suci
untuk melaksanakan ibadah haji yang disyariatkan Allah, “Haji, bulan-bulannya dikenal dan siapa yang telah memutuskan melakukan
haji, maka pada waktu itu tidak ada lagi kata-kata yang tidak sopan, cacian dan
pertengkaran” [Al Baqarah 2;197].
Pada hari inipun bagi ummat Islam
yang belum ada kesanggpuan untuk datang ke ”Tanah
Haram” melakukan ibadah haji diseluruh penjuru dunia, ummat Islam melakukan
amalan kurban seperti kambing, sapi atau kerbau. Dagingnya dibagikan pada yang
berhak menerimanya.
Walau sebenarnya daging kurban itu
tidak sampai kepada Allah, melainkan keikhlasan si pengurban, tapi itu
merupakan simbul yang patut diteladani dari Ibrahim dan Ismail As.
Nabi
Ibrahim telah menikah dengan Sarah. Pernikahan itu tidak kunjung membuahkan
generasi pelanjut. Berpuluh tahun menantikan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya, belum juga dikaruniai
seorang putrapun. Ibrahim menjadi
masqul. Melihat kesedihan suami yang dicintai, Sarah tidak tega. Ia tawarkan Hajar, budaknya untuk
dinikahi dengan harapan akan memperoleh seorang putra bagi Ibrahim, Sarah rela
dimadu dengan Hajar.
Allah memberikan karunianya. Hajar mengandung. Tiada
terkira rasa cemburu Sarah kepada Hajar. Timbul khawatir Ibrahim akan melupakan
dirinya. Rasa cemburu merupakan fithrah manusia, tidak kecuali pada Sarah.
Sementara ia masih bisa menahan hati ketika Hajar masih mengandung. Namun
perasaan itu tidak bisa disembunyikan lagi bila Ismail telah lahir. Suatu hari
Sarah berkata, ”Suamiku Ibrahim. Berat rasa hati mengatakan hal ini, telah lama
ku pendam perasaan. Sudah ku coba untuk menenangkan hati, tapi rasanya tak
tahan lagi. Aku takut kau akan melupakan
diriku, setelah Hajar menjadi isterimu, ia wanita yang beruntung dapat
memberikan keturunan kepadamu”.
Ibrahim menaruh kasihan, ”Sarah, Hajar adalah budakmu.
Kau dapat melakukan apa saja padanya. Kau dapat berbuat sesuka hatimu”. Hibur
Ibrahim. Namun sebagai wanita yang beriman, Sarah tidak mau melampiaskan semua
isi hatinya. Ia takut kepada Allah. Meskipun telah diberi kebebasan, dia tidak
mau melakukannya. Sarah masih membolehkan Hajar tinggal di rumahnya.
Ketika Ismail lahir, apa yang dibayangkan serta dilakukan
Sarah benar-benar terjadi. Perhatian dan kasih sayang Ibrahim kepada Hajar dan
putranya makin bertambah. Tidak ada waktu luang yang tidak dilewatkan bersama
anaknya Ismail. Tiada terkira bahagianya Ibrahim. Melihat kenyataan itu Sarah
menemui Ibrahim dan berkata, ”Demi Allah aku tidak tahan lagi hidup bersama.
Aku tidak tahan lagi hidup satu rumah dengannya”. Setiap hari Sarah mendesak
Ibrahim agar membawa Hajar pergi dari rumahnya. Hingga suatu hari Ibrahim
mendapat perintah dari Allah Swt untuk membawa Hajar ke Selatan.
Dibawanya Hajar dan Ismail ke daerah tandus lagi kosong
tanpa penduduk. Daerah itu aman bagi Ismail dan ibunya. Aman pula dari Sarah
yang tidak menyukai kehadirannya. Disini Ibrahim meninggalkan isteri dan
anaknya dengan bekal sekarung kurma dan segentong air, setelah dibangunnya sebuah
gubuk sederhana sekedar tempat berteduh. Disini Hajar harus berjuang
mempertahankan hidup bersama Ismail. Hajar belum menyadari mereka akan
ditinggalkan ditempat sepi ini. Ia takut dan
cemas. Hari demi hari akan dilaluinya dalam kedukaan. Setelah Ibrahim
mengutarakan maksud Allah, Hajar berusaha membujuk Ibrahim, tapi dengan tegar
Ibrahim melangkah tanpa menoleh. Setelah agak jauh meninggalkan Hajar,
terdengar teriakan Hajar. ”Ibrahim suamiku. Benarkah engkau akan pergi
meninggalkan kami di tempat ini, sunyi lagi sepi ? Benarkah yang menyuruh ini
Allah ?”. dengan suara tersendat bercampur dengan kepiluan Ibrahim menjawab,
”Benar, isteriku. Ini semua perintah Allah”.
Setelah mendengar jawaban dari Ibrahim, puaslah hati
Hajar. Dia tenang kembali, karena yakin Allah memberikan ujian kepada mereka
serta Allahpun siap menolongnya. Sebelum hilang anak dan isteri dari
pandangannya, Ibrahim berdo’a, ”Ya Allah, sesungguhnya aku telah menempatkan
sebahagian keturunanku di lembah yang
tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau [Baitullah] yang dihormati.
Ya Tuhan, karena yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka
jadikanlah hati sebagian manusia cendrung kepada mereka dan beri rezekilah
mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur” [Ibrahim;37].
Hajar begitu menyadari telah tinggal berdua saja dengan
anaknya ismail kemudian merasa panik. Apalah daya anak bayi tersebut. Tidak ada
yang lain tempat meminta tolong. Apalagi setelah perbekalan mereka berupa kurma
dan air berangsur habis. Hajar dan anaknya terancam lapar dan dahaga. Rasa
lapar dan haus tidak tertahankan lagi membuatnya bingung. Sementara rona wajah
anaknya semakin pudar dari sinar kehidupan.
Hajar mencari air untuk mengembalikan cahaya Ismail.
Hanya pasir kering dan batu karang yang ditemuinya. Dilayangkan pandangannya ke
Shafa, seolah ada air, tetapi alangkah kecewa hatinya. Tidak ada air yang
diperlukan, dilihatnya Marwa, diapun berlari kesana untuk mendapatkan air.
Sia-sia saja usahanya, karena dorongan rasa sayang kepada buah hatinya, tetap
dicari tanpa putus asa, tak pernah padam semangatnya.
Dari Marwa kembali ke Shafa tidak juga berhasil. Bolak
balik dari Shafa ke Marwa sampai tujuh kali, akhirnya kehabisan tenaga. Hajar
jatuh tersungkur ke batu karena letih. Dalam ketidakberdayaannya Hajar
menyerahkan diri dan nasib anaknya kepada Allah, memohon perlindungan dan
pertolongan.
Dia dikejutkan oleh tangis anaknya, diseretnya langkah
menuju sang bayi, wajah pucat yang disayang terpandang olehnya. Cahaya
kehidupan Ismail hampir padam sedikit demi sedikit.
Hati ibu mana yang tidak akan hancur melihat kenyataan
demikian. Dikumpulkannya sisa tenaga yang ada...perlahan-lahan ditinggalkannya
anaknya yang menyongsong maut itu. Tidak tega hatinya. Tangannya menutupi wajahnya
yang berurai air mata, penuh kesedihan dia merintih. Dunia seakan berhenti
berputar, angin seolah berhenti bertiup, turut merasakan kesedihan ibu yang
menderita itu. Yang terdengar hanya nafas ibu dan desah anaknya yang kian
lembut.
Tiba-tiba tanpa diketahui dariman adatangnya. Tampak
sekelompok burung terbang menuju ke suatu tempat. Kemudian mematuk-matuk tanah
dengan paruhnya. Hingga tampak basah, secepat kilat Hajar menuju tempat itu,
digalinya tanah basah itu dengan kedua tangannya. Maka memancar air dengan
derasnya. Diucapkan kata-kata ”Zam-zam” yang berarti teduhlah air, teduhlah
atas kekuasaan Allah. Dibawanya air untuk membasahi bibir Ismail dengan kedua
telapak tangannya, digendong serta disirami air. Kehidupan mulai tampak, cahaya
muka Ismail mulai kelihatan dengan adanya air zam-zam.
Sampai Ismail menjelang dewasa, tidak pernah ditengok
oleh ayahnya, hanya dalam asuhan ibunya seorang, Ismail tidak mengetahui dan
mengenal ayahnya, dia diasuh dengan belaian kasih sayang seorang ibu, dengan segala
beban penderitaan, hingga datang suatu hari Ibrahim menjenguk anak dan
isterinya. Tetapi sayang ketika dalam kegembiraan Ibrahim mendapat ujian
kembali. Belum habis rasa capeknya
setelah menelusuri perjalanan yang panjang, belum terobati rasa rindunya sebuah
mimpi mengusik ketenangannya, mimpi itu dari Allah agar dia menyembelih
putranya.
Dapat dibayangkan betapa hancur dan pedihnya hati seorang
ayah yang sudah lama memendam rasa rindu, tapi setelah bertemu anak yang baru
saja tumbuh remaja harus pula disembelih. Dia tidak tega melakukannya, sehingga
beberapa saat mimpi itu selalu disimpan. Tidak berani menceritakan kepada anak
dan isterinya. Namun karena perintah Allah, pengorbanan apa saja dia selalu
siap melaksanakannya, ”...Ibrahim
berkata, ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab, ”Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan
mendapatiku orang-orang yang sabar” [Asy Syafaat;120].
Ismail walaupun masih muda belia rela serta tidak gentar
menyerahkan dirinya untuk disembelih. Dia ikhlas karena dia anak yang shaleh
yang telah dibina, dididik, ditempa oleh seorang ibu dengan segala beban
penderitaan. Mereka sadar bahwa hidup hanyalah serentetan ujian dari Allah. Dan
kini mereka sedang berada dalam ujian yang kesekiankalinya yaitu melakukan
penyembelihan terhadap anak kesayangannya, belahan jiwa, penyejuk mata penenang
hati. Ketika pisau akan disembelih ke leher Ismail dengan sangat hati-hati
Ibrahim melakukannya, atas kuasa Allah, diganti dengan seekor domba, Allah
menerima iman dan kesabarannya.
Seandainya Ibrahim, begitu menerima perintah Allah
langsung mengerjakan penyembelihan terhadap Ismail, maka dia telah berpahala, namun
dia tidak suka, bila pekerjaan besar ini tidak mendapat resfon dari Ismail,
Ibrahim juga berharap agar anaknya mendapat pahala yang besar dari pengorbanan
ini.
Dari kisah di atas nampaknya hidup memang penuh dengan
rentetan ujian dan cobaan dari Allah. Pengorbanan dalam arti luas yaitu
memberikan sedikit waktu, tenaga, peluang serta bentuk marena kepada yang
membutuhkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Allah tidak menerima
ujud dari pengorbanan tersebut namun sebagai amal, yang sampai ialah keikhlasan
dalam pengorbanan itu, wallahu a’lam [Padang, 14022003].
-Dari berbagai sumber
4. Al Qamah
Di zaman Rasulullah ada
seorang pemuda yang bernama Alqomah, ia sangat rajin beribadat. Suatu hari ia
tiba-tiba jatuh sakit yang sangat kuat, maka isterinya menyuruh orang memanggil
Rasulullah dan mengatakan suaminya sakit kuat dan dalam naza sakaratul maut.
Apabila berita ini sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh Bilal
r.a, Ali r.a, Salamam r.a dan Ammar r.a supaya pergi melihat keadaan Alqomah.
Apabila mereka sampai ke rumah Alqomah, mereka terus mendapatkan Alqomah sambil
membantunya membacakan kalimah La-ilaa-ha-illallah, tetapi lidah Alqomah tidak
dapat menyebutnya.
Ketika para sahabat mendapati bahawa Alqomah pasti akan
mati, maka mereka menyuruh Bilal r.a supaya memberitahu Rasulullah tentang
keadaan Alqomah. Apabila Bilal sampai dirumah Rasulullah, maka bilal
menceritakan segala hal yang berlaku kepada Alqomah. Lalu Rasulullah bertanya
kepada Bilal; "Wahai Bilal apakah ayah Alqomah masih hidup?" jawab
Bilal r.a, " Tidak, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan
sangat tua usianya". Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal;
"Pergilah kamu kepada ibunya dan sampaikan salamku, dan katakan kepadanya
kalau dia dapat berjalan, suruh dia datang berjumpaku, kalau dia tidak dapat
berjalan katakan aku akan kerumahnya".
Maka apabila Bilal sampai kerumah ibu Alqomah, lalu ia
berkata seperti yang Rasulullah kata kepadanya, maka berkata ibu Alqomah;
" Aku lebih patut pergi berjumpa Rasulullah". Lalu ibu Alqomah
mengangkat tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah Rasulullah. Maka bertanya
Nabi s.a.w. kepada ibu Alqomah; "Terangkan kepada ku perkara yang sebenar
tentang Alqomah, jika kamu berdusta nescaya akan turun wahyu kepadaku".
Berkata Nabi lagi; "Bagaimana keadaan Alqomah?", jawab ibunya;
"Ia sangat rajin beribadat, ia sembahyang, berpuasa dan sangat suka
bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui banyaknya".
Bertanya Rasulullah; "Bagaimana hubungan kamu dengan dia?", jawab
ibunya; " Aku murka kepadanya", lalu Rasulullah bertanya;
"Mengapa", jawab ibunya; "Kerana ia patut mengutamakan aku dari
isterinya, dan menurut kata-kata isterinya sehingga ia menentangku".
Maka berkata Rasulullah; "Murka kamu itulah yang
telah mengunci lidahnya dari mengucap La iilaa ha illallah", kemudian Nabi
s.a.w menyuruh Bilal mencari kayu api untuk membakar Alqomah. Apabila ibu
Alqomah mendengar perintah Rasulullah lalu ia bertanya; "Wahai Rasulullah,
kamu hendak membakar putera ku didepan mataku?, bagaimana hatiku dapat
menerimanya". Kemudian berkata Nabi s.a.w; "Wahai ibu Alqomah, siksa
Allah itu lebih berat dan kekal, oleh itu jika kamu mahu Allah mengampunkan
dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya", demi Allah yang
jiwaku ditangannya, tidak akan guna sembahyangnya, sedekahnya, selagi kamu
murka kepadanya". Maka berkata ibu Alqomah sambil mengangkat kedua
tangannya; "Ya Rasulullah, aku persaksikan kepada Allah dilangit dan kau
Ya Rasulullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahawa aku redha pada anakku
Alqomah".
Maka Rasulullah mengarahkan Bilal pergi melihat Alqomah
sambil berkata; "Pergilah kamu wahai Bilal, lihat sama ada Alqomah dapat
mengucapkan La iilaa ha illallah atau tidak". Berkata Rasulullah lagi
kepada Bilal ; "Aku khuatir kalau kalau ibu Alqomah mengucapkan itu
semata-mata kerana pada aku dan bukan dari hatinya". Maka apabila Bilal
sampai di rumah Alqomah tiba-tiba terdengar suara Alqomah menyebut; "La
iilaa ha illallah". Lalu Bilal masuk sambil berkata; "Wahai semua
orang yang berada disini, ketahuilah sesungguhnya murka ibunya telah menghalang
Alqomah dari dapat mengucapkan kalimah La iila ha illallah, kerana redha
ibunyalah maka Alqomah dapat menyebut kalimah syahadat". Maka matilah
Alqomah pada waktu sebaik saja dia mengucap.
Maka Rasulullah s.a.w pun sampai di rumah Alqomah sambil
berkata; "Segeralah mandi dan kafankan", lalu disembahyangkan oleh
Nabi s.a.w. dan sesudah dikuburkan maka berkata Nabi s.a.w. sambil berdiri
dekat kubur; "Hai sahabat Muhajirin dan Anshar, barang siapa yang
mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia adalah orang yang dilaknat oleh
Allah s.w.t, dan tidak diterimanya daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya.
Sumber; Himpunan
Kisah-Kisah Teladan
Langganan:
Komentar (Atom)