Tanggal 10 Zulhijjah hari besar
bagi ummat ummat Islam sebagai hari raya Haji serta hari raya Qurban. Dengan
segala kemampujan yang dimiliki ummat Islam seluruh dunua pergi ke tanah suci
untuk melaksanakan ibadah haji yang disyariatkan Allah, “Haji, bulan-bulannya dikenal dan siapa yang telah memutuskan melakukan
haji, maka pada waktu itu tidak ada lagi kata-kata yang tidak sopan, cacian dan
pertengkaran” [Al Baqarah 2;197].
Pada hari inipun bagi ummat Islam
yang belum ada kesanggpuan untuk datang ke ”Tanah
Haram” melakukan ibadah haji diseluruh penjuru dunia, ummat Islam melakukan
amalan kurban seperti kambing, sapi atau kerbau. Dagingnya dibagikan pada yang
berhak menerimanya.
Walau sebenarnya daging kurban itu
tidak sampai kepada Allah, melainkan keikhlasan si pengurban, tapi itu
merupakan simbul yang patut diteladani dari Ibrahim dan Ismail As.
Nabi
Ibrahim telah menikah dengan Sarah. Pernikahan itu tidak kunjung membuahkan
generasi pelanjut. Berpuluh tahun menantikan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya, belum juga dikaruniai
seorang putrapun. Ibrahim menjadi
masqul. Melihat kesedihan suami yang dicintai, Sarah tidak tega. Ia tawarkan Hajar, budaknya untuk
dinikahi dengan harapan akan memperoleh seorang putra bagi Ibrahim, Sarah rela
dimadu dengan Hajar.
Allah memberikan karunianya. Hajar mengandung. Tiada
terkira rasa cemburu Sarah kepada Hajar. Timbul khawatir Ibrahim akan melupakan
dirinya. Rasa cemburu merupakan fithrah manusia, tidak kecuali pada Sarah.
Sementara ia masih bisa menahan hati ketika Hajar masih mengandung. Namun
perasaan itu tidak bisa disembunyikan lagi bila Ismail telah lahir. Suatu hari
Sarah berkata, ”Suamiku Ibrahim. Berat rasa hati mengatakan hal ini, telah lama
ku pendam perasaan. Sudah ku coba untuk menenangkan hati, tapi rasanya tak
tahan lagi. Aku takut kau akan melupakan
diriku, setelah Hajar menjadi isterimu, ia wanita yang beruntung dapat
memberikan keturunan kepadamu”.
Ibrahim menaruh kasihan, ”Sarah, Hajar adalah budakmu.
Kau dapat melakukan apa saja padanya. Kau dapat berbuat sesuka hatimu”. Hibur
Ibrahim. Namun sebagai wanita yang beriman, Sarah tidak mau melampiaskan semua
isi hatinya. Ia takut kepada Allah. Meskipun telah diberi kebebasan, dia tidak
mau melakukannya. Sarah masih membolehkan Hajar tinggal di rumahnya.
Ketika Ismail lahir, apa yang dibayangkan serta dilakukan
Sarah benar-benar terjadi. Perhatian dan kasih sayang Ibrahim kepada Hajar dan
putranya makin bertambah. Tidak ada waktu luang yang tidak dilewatkan bersama
anaknya Ismail. Tiada terkira bahagianya Ibrahim. Melihat kenyataan itu Sarah
menemui Ibrahim dan berkata, ”Demi Allah aku tidak tahan lagi hidup bersama.
Aku tidak tahan lagi hidup satu rumah dengannya”. Setiap hari Sarah mendesak
Ibrahim agar membawa Hajar pergi dari rumahnya. Hingga suatu hari Ibrahim
mendapat perintah dari Allah Swt untuk membawa Hajar ke Selatan.
Dibawanya Hajar dan Ismail ke daerah tandus lagi kosong
tanpa penduduk. Daerah itu aman bagi Ismail dan ibunya. Aman pula dari Sarah
yang tidak menyukai kehadirannya. Disini Ibrahim meninggalkan isteri dan
anaknya dengan bekal sekarung kurma dan segentong air, setelah dibangunnya sebuah
gubuk sederhana sekedar tempat berteduh. Disini Hajar harus berjuang
mempertahankan hidup bersama Ismail. Hajar belum menyadari mereka akan
ditinggalkan ditempat sepi ini. Ia takut dan
cemas. Hari demi hari akan dilaluinya dalam kedukaan. Setelah Ibrahim
mengutarakan maksud Allah, Hajar berusaha membujuk Ibrahim, tapi dengan tegar
Ibrahim melangkah tanpa menoleh. Setelah agak jauh meninggalkan Hajar,
terdengar teriakan Hajar. ”Ibrahim suamiku. Benarkah engkau akan pergi
meninggalkan kami di tempat ini, sunyi lagi sepi ? Benarkah yang menyuruh ini
Allah ?”. dengan suara tersendat bercampur dengan kepiluan Ibrahim menjawab,
”Benar, isteriku. Ini semua perintah Allah”.
Setelah mendengar jawaban dari Ibrahim, puaslah hati
Hajar. Dia tenang kembali, karena yakin Allah memberikan ujian kepada mereka
serta Allahpun siap menolongnya. Sebelum hilang anak dan isteri dari
pandangannya, Ibrahim berdo’a, ”Ya Allah, sesungguhnya aku telah menempatkan
sebahagian keturunanku di lembah yang
tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau [Baitullah] yang dihormati.
Ya Tuhan, karena yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka
jadikanlah hati sebagian manusia cendrung kepada mereka dan beri rezekilah
mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur” [Ibrahim;37].
Hajar begitu menyadari telah tinggal berdua saja dengan
anaknya ismail kemudian merasa panik. Apalah daya anak bayi tersebut. Tidak ada
yang lain tempat meminta tolong. Apalagi setelah perbekalan mereka berupa kurma
dan air berangsur habis. Hajar dan anaknya terancam lapar dan dahaga. Rasa
lapar dan haus tidak tertahankan lagi membuatnya bingung. Sementara rona wajah
anaknya semakin pudar dari sinar kehidupan.
Hajar mencari air untuk mengembalikan cahaya Ismail.
Hanya pasir kering dan batu karang yang ditemuinya. Dilayangkan pandangannya ke
Shafa, seolah ada air, tetapi alangkah kecewa hatinya. Tidak ada air yang
diperlukan, dilihatnya Marwa, diapun berlari kesana untuk mendapatkan air.
Sia-sia saja usahanya, karena dorongan rasa sayang kepada buah hatinya, tetap
dicari tanpa putus asa, tak pernah padam semangatnya.
Dari Marwa kembali ke Shafa tidak juga berhasil. Bolak
balik dari Shafa ke Marwa sampai tujuh kali, akhirnya kehabisan tenaga. Hajar
jatuh tersungkur ke batu karena letih. Dalam ketidakberdayaannya Hajar
menyerahkan diri dan nasib anaknya kepada Allah, memohon perlindungan dan
pertolongan.
Dia dikejutkan oleh tangis anaknya, diseretnya langkah
menuju sang bayi, wajah pucat yang disayang terpandang olehnya. Cahaya
kehidupan Ismail hampir padam sedikit demi sedikit.
Hati ibu mana yang tidak akan hancur melihat kenyataan
demikian. Dikumpulkannya sisa tenaga yang ada...perlahan-lahan ditinggalkannya
anaknya yang menyongsong maut itu. Tidak tega hatinya. Tangannya menutupi wajahnya
yang berurai air mata, penuh kesedihan dia merintih. Dunia seakan berhenti
berputar, angin seolah berhenti bertiup, turut merasakan kesedihan ibu yang
menderita itu. Yang terdengar hanya nafas ibu dan desah anaknya yang kian
lembut.
Tiba-tiba tanpa diketahui dariman adatangnya. Tampak
sekelompok burung terbang menuju ke suatu tempat. Kemudian mematuk-matuk tanah
dengan paruhnya. Hingga tampak basah, secepat kilat Hajar menuju tempat itu,
digalinya tanah basah itu dengan kedua tangannya. Maka memancar air dengan
derasnya. Diucapkan kata-kata ”Zam-zam” yang berarti teduhlah air, teduhlah
atas kekuasaan Allah. Dibawanya air untuk membasahi bibir Ismail dengan kedua
telapak tangannya, digendong serta disirami air. Kehidupan mulai tampak, cahaya
muka Ismail mulai kelihatan dengan adanya air zam-zam.
Sampai Ismail menjelang dewasa, tidak pernah ditengok
oleh ayahnya, hanya dalam asuhan ibunya seorang, Ismail tidak mengetahui dan
mengenal ayahnya, dia diasuh dengan belaian kasih sayang seorang ibu, dengan segala
beban penderitaan, hingga datang suatu hari Ibrahim menjenguk anak dan
isterinya. Tetapi sayang ketika dalam kegembiraan Ibrahim mendapat ujian
kembali. Belum habis rasa capeknya
setelah menelusuri perjalanan yang panjang, belum terobati rasa rindunya sebuah
mimpi mengusik ketenangannya, mimpi itu dari Allah agar dia menyembelih
putranya.
Dapat dibayangkan betapa hancur dan pedihnya hati seorang
ayah yang sudah lama memendam rasa rindu, tapi setelah bertemu anak yang baru
saja tumbuh remaja harus pula disembelih. Dia tidak tega melakukannya, sehingga
beberapa saat mimpi itu selalu disimpan. Tidak berani menceritakan kepada anak
dan isterinya. Namun karena perintah Allah, pengorbanan apa saja dia selalu
siap melaksanakannya, ”...Ibrahim
berkata, ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab, ”Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan
mendapatiku orang-orang yang sabar” [Asy Syafaat;120].
Ismail walaupun masih muda belia rela serta tidak gentar
menyerahkan dirinya untuk disembelih. Dia ikhlas karena dia anak yang shaleh
yang telah dibina, dididik, ditempa oleh seorang ibu dengan segala beban
penderitaan. Mereka sadar bahwa hidup hanyalah serentetan ujian dari Allah. Dan
kini mereka sedang berada dalam ujian yang kesekiankalinya yaitu melakukan
penyembelihan terhadap anak kesayangannya, belahan jiwa, penyejuk mata penenang
hati. Ketika pisau akan disembelih ke leher Ismail dengan sangat hati-hati
Ibrahim melakukannya, atas kuasa Allah, diganti dengan seekor domba, Allah
menerima iman dan kesabarannya.
Seandainya Ibrahim, begitu menerima perintah Allah
langsung mengerjakan penyembelihan terhadap Ismail, maka dia telah berpahala, namun
dia tidak suka, bila pekerjaan besar ini tidak mendapat resfon dari Ismail,
Ibrahim juga berharap agar anaknya mendapat pahala yang besar dari pengorbanan
ini.
Dari kisah di atas nampaknya hidup memang penuh dengan
rentetan ujian dan cobaan dari Allah. Pengorbanan dalam arti luas yaitu
memberikan sedikit waktu, tenaga, peluang serta bentuk marena kepada yang
membutuhkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Allah tidak menerima
ujud dari pengorbanan tersebut namun sebagai amal, yang sampai ialah keikhlasan
dalam pengorbanan itu, wallahu a’lam [Padang, 14022003].
-Dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar