Langkah orang tua itu
tertatih-tatih menuju sebuah rumah sederhana. Dia baru saja menemui Nabi
Muhammad dirumahnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
"Assalamualaikum,
wahai keluarga Nabi," seru seseorang dari luar. Fatimah, putri Rasulullah,
bergegas membukakan pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam,"
jawab perempuan berwajah lembut itu.
Dilihatnya, seorang
lelaki bepakaian compang-camping dan penuh tambalan. Badannya tampak lesu dan
kelaparan.
"Siapa anda?"
tanya Fatimah kemudian.
" Aku baru saja
menjumpai Rasulullah untuk memohon sedekah sekadarnya. Tetapi, ayahmu tak
mempunyai apa-apa untuk diberikan kepadaku. Beliau menyuruhku datang
padamu," kata lelaki tua itu.
" Putri Nabi yang mulia, tolonglah saya yang miskin dan lapar ini,"
suaranya memelas.
Fatimah segera mencari
sesuatu yang dapat diberikan pada orang itu. Akan tetapi, tak ada sedikitpun
makanan atau pakaian untuk diberikan. Sesaat Fatimah kebingungan. Ia heran,
kenapa Rasulullah menyuruh orang miskin itu menemuinya. Padahal, hidupnya
sendiri tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Dirumahnya sering kekurangan
makanan. Jadi, apa yang harus disedekahkan?
Oya! Fatimah teringat
pada sehelai tikar yang biasa dipakai tidur oleh Hasan dan Husein, anaknya.
Fatimah mengambil tikar tikar itu. Dan segera mamberikannya pada orang itu.
"Aku hanya mempunyai
ini untukmu," kata Fatimah. Orang tua miskin itu mengerutkan alisnya.
Tampak kesedihan tersembarut di wajah letihnya.
"Hai putri Nabi,
aku sangat kelaparan. Kenapa kau malah memberikan tikar padaku. Aku mohon, berilah sesuatu yang lain?"
kata lelaki itu.
Fatimah tambah
kebingungan. Apa lagi yang bisa diberikan? Hatinya sungguh tak tega melihat
keadaan orang tua itu. Fatimah memang mudah tersentuh jika melihat orang miskin
yang kelaparan. Ia ingin sekali menolongnya. Tak sengaja Fatimah meraba lehernya.
Seuntai kalung melingkar disana. Tanpa pikir panjang, Fatimah melepas
kalungnya. Lalu diberikan pada orang miskin itu.
" Ambillah kalung
ini. Mudah-mudahan bisa memenuhi apa yang kau butuhkan," sahut Fatimah
dengan ikhlas.
Sebenarnya, kalung itu
barang yang amat berharga bagi Fatimah. Pamannya, Hamzah, menghadiahkan kalung
itu pada hari pernikahannya. Tapi ia rela memberikannya kepada orang yang
tengah membutuhkan pertolongannya.
" Terimakasih,
wahai Putri Rasulullah. Allah akan membalas kebaikanmu," ucap orang tua
itu dengan penuh bahagia. Orang tua miskin itu pun membawa kalung Fatimah
dengan hati gembira. Ia segera menemui Rasulullah. Diperlihatkannya kalung itu
kepada beliau.
Sumber; Compiled by Erman
Citramas Indah E/22
Batu Besar, Batam
E-mail:
4erman@telkom.net
Tidak ada komentar:
Posting Komentar