Siang itu, langit kota
Madinah amat terik seolah akan membakar kulit. Membuat sebagian besar
penduduknya enggan keluar rumah. Mereka lebih memilih tinggal di dalam untuk
menghindari sengatan yang luar biasa panasnya.
Namun, seorang
perempuan tua berjalan tertatih-tatih di tengah panas matahari. Kedua tangannya
membawa bungkusan besar, ia datang dari Makkah. Tampak tetesan keringat di
wajahnya yang keriput. Sebentar-sebentar ia berhenti di bawah pohon untuk
melepaskan lelahnya. Di balik mata cekungnya tersimpan beribu harapan untuk
bertemu seseorang.
Inikah rumahnya? Tanya
perempuan itu dalam hati. Dengan ragu, ia mendekati sebuah rumah mungil yang
sederhana.
Seorang perempuan
cantik kebetulan tengah berdiri di depan pintu. Rupanya Asma binti Abu Bakar.
"Betulkah ini
rumah Asma?" tanya perempuan itu seraya mengusap keringat.
"Ya, benar ini
rumah Asma," dia mengerutkan dahinya untuk menegaskan penglihatannya.
Rasanya ia sudah pernah mengenal perempuan itu. Tetapi, siapa dan dimana?
Sejenak ia terdiam dan mengingatnya.
Kerinduan Asma yang
selama ini dipendamnya hampir tak terbendung lagi. Ia berlari menghampiri
ibunya. Betapa Asma ingin memeluk dan mencium ibu yang telah lama
dinantikannya.
Tiba-tiba, Asma
menghentikan langkahnya. Ia teringat ibunya masih musyrik, belum beriman kepada
Allah. Asma memang anaknya. Dahulu perempuan itu istri dari Abu Bakar ketika
mereka masih sama-sama menyembah berhala. Lalu, Abu Bakar masuk agama Islam
yang dibawa Muhammad. Abu Bakar pun bercerai dengan perempuan itu.
Asma mengurungkan
niatnya.
"Nak, kenapa tidak
menyuruh ibumu masuk?" perempuan itu menatap Asma dengan rasa rindu dan
sayang yang besar.
Asma terdiam. Tidak
terasa air matanya berderai di pipi. Asma sangat bingung menghadapi ibu
kandungnya yang masih musyrik itu. Apa ia boleh dipersilahkan masuk ke rumah?
Apa boleh di peluk? Ah, sungguh Asma belum tahu.
Dengan hati tersayat,
Asma masuk kerumah. Ia membiarkan ibunya tetap berdiri di halaman rumah. Di
bawah sengatan terik matahari. Asma bergegas mencari Aslam, pembantunya.
"Aslam, tolong
temui Rasulullah," kata Asma."Tanyakan pada beliau, apakah ibuku yang
belum beriman itu boleh masuk ke rumahku?"
"Baik, aku segera
ke sana," sahut Aslam. "Cepatlah Aslam. Aku tak tega membiarkan ibuku
kepanasan di luar sana!"
Aslam bergegas menuju
rumah Rasulullah. Tiba di hadapan Rasul, ia menceritakan apa yang di alami oleh
Asma.
"Katakan pada
Asma, persilakan ibunya masuk. Hormati dan muliakanlah. Tidak ada larangan bagi
seorang anak untuk menghormati orang tua yang belum beriman kepada Allah,"
kata Rasulullah.
Pembantu itu pun segera
pulang dan menyampaikan pesan Rasulullah. Hati Asma terasa lega. Asma berlari
ke luar rumah menyambut ibunya dengan senyum ramah. Asma memeluk ibunya
erat-erat, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Silakan masuk,
Bunda," ajak Asma sambil menuntun tangan ibunya. "Lihatlah cucu-cucu
Bunda yang sudah besar-besar."
Ibunya tersenyum senang
mendapatkan Asma hidup bahagia. Dikeluarkannya bungkusan berisi oleh-oleh aneka
makanan yang dibuatnya sendiri.
"Asma, Bunda
buatkan makanan kesukaanmu," katanya. Asma terharu. Rupanya, ibu masih
mengingat semua kegemarannya. Asma menghormati ibunya dengan baik sekali. Dalam
hati, ia bersyukur dapat menyayangi ibunya walaupun ibunya belum menjadi seorang
Muslimah.
Sumber; Compiled by
Erman
Citramas Indah E/22
Batu Besar, Batam
E-mail:
4erman@telkom.net
Tidak ada komentar:
Posting Komentar